Minggu, 09 Desember 2007

TERDAMPAR

Perahu bercadik itu tergeletak di hamparan pasir putih nan luas, berbaris bersama perahu-perahu yang lain, perahu tua yang selalu digunakan ayah untuk mengais rizki di tengah lautan sana. Aku menatap perahu itu dengan segumpal rasa berdosa.
Malam ini aku sendiri, duduk di kursi reyot di belakang rumah, memandang laut lepas dengan segenap perasaan gundah. Pikiranku kacau semenjak kata-kata pahit itu menghujam menghantui diriku.
“Apa yang bisa kamu kerjakan, tidur melulu saban hari !”.
bayangan suara sumbang itu terus mengalun di telingaku, bahkan aku masih mengingat dengan jelas kata-kata menyakitkan itu sampai kini.
“Dasar anak tak berguna !”.
Tanganku terkepal dan kepalaku seakan terasa mendidih. Aku melangkah meninggalkan kursi tua, menapakkan kaki menjelajah gundukan-gundukan pasir yang terbentang dan berhenti di samping perahu yang dari sore telah tergeletak di situ. Ku raih dayungya erat selaksa memegang sebuah tombak. Aku memang tak pernah membantu engkau. Hanya makan dan tidur yang aku lakukan tiap hari, tapi itu bukan berarti aku tak berguna seperti yang ayah katakan !. Aku bisa berbuat sesuatu untukmu. Aku bisa mencari ikan, Yah …! Malam ini juga akan ku buktikan kepadamu, ayah !, jerit hatiku menderu.
Aku mendorong perahu itu kuat hingga mencapai ombak pantai. Perlahan ku kayuh dengan perahu dengan penuh perasaan tertantang. Aku bisa melakukannya untukmu !. Perahu terus ku kayuh menerjang ombak yang cukup ganas di depan sana. Sorot mataku tajam menembus keheningan malam. Bayu berhembus kencang namun emosi jiwaku tetap berkobar, bahkan tanganku kian terkepal sembari sesekali ku tengok ke belakang yang rupanya aku sudah cukup jauh berlayar.
Hembusan bayu mengalun semakin kuat, tapi aku tak peduli. Aku masih terus mengayun dan terus berjalan. Aku tak menyadari hembusan ini adalah awal petaka. Dan benar, tiba-tiba saja iringan ombak besar muncul di depan mataku kontan mengombang-ambingkan perahu yang ku layari. Aku tak habis pikir, kenapa ada badai di laut yang tenang ini, tapi aku tak peduli, ku coba untuk bertahan, namun sekali lagi iringan ombak yang lebih besar menghantam perahu, melemparkan aku ke laut yang tengah murka. Lalu…, saat ini aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku, saat ini aku tak tahu apa yang sedang menimpaku, aku tak bisa merasakan apa-apa lagi, aku tak merasakan hembusan bayuku. Yang mampu kurasakan sekarang hanyalah kegelapan menyapaku….
*****
Jerit burung-burung laut nyaring terdengar di telinga. Aku merasakan ada sesuatu yang lembut tengah membelai tubuhku. Aku tersentak. Ku coba untuk membuka penglihatanku. Sayup-sayup ku lihat hamparan pasir putih terbentang di sini. Aku tertegun dengan segudang tanda tanya, apa yang telah terjadi pada diriku ?.
Aku mencoba bangkit dari telungkupku yang entah dari kapan aku di sini. Ku tatap nanar gemuruh ombak pantai begitu liar menggapai tebing dan batuan terjal tak jauh dari tempat ku berdiri saat ini. Retinaku bergerak ke kanan dan ke kiri tempat di mana aku berada saat sekarang. Pohon kelapa berbaris rapi di pinggiran pantai, tebing-tebing yang curam dan tinggi, burung-burung berkejaran ke sana kemari. Oh, Tuhan, di mana aku sekarang ?.
Tak kulihat manusia satu pun di sini. Perkampungan penduduk juga tak ku dapati. Hanya kehidupan liar yang dapat aku temui saat ini. Sangat kontras dengan kehidupan yang biasa aku temui. Bukan, ini bukan pulauku. Ini bukan tempatku. Oh tidak, aku telah terdampar.
Terik sang mentari kian memancar terang. Tatapanku kini tertuju pada bentangan air laut yang luas membiru. Tak terlintas di indera penglihatanku pulau di mana aku semestinya berada. Tiada terlintas dalam pandanganku tanah di mana aku biasa bermain-main dengan temanku setiap sore sembari memanjat pohon kelapa yang tinggi. Hanya gambar lautan membentang dengan riak ombak besar yang mampu terekam di mataku, tiada gambar yang lain. Tidak juga kapal ataupun perahu kecil yang lalu lalang di hamparan air membiru. Tiada gambar yang lain. aku benar-benar telah terdampar, terdampar di sebuah pulau yang teramat asing bagiku, jauh dari tanah kelahiranku, jauh dari orang tua, orang-orang yang ku kasihi, jauh dari kehidupan manusia. Oh Tuhan, takdir apa lagi yang Engkau berikan !.
*****
buah kelapa ku teguk dengan tiada gairah. Dua hari sudah aku di sini, di sebuah daratan yang sepertinya tidak tercantum dalam peta. Sebuah daratan rimbun, sepi, asing, dan tiada makanan. Hanya buah-buahan yang bisa ku dapatkan untuk mengganjal rasa lapar yang terus melilit.
Ku tapakkan kaki menjelajahi gundukan pasir, menyusuri tepian pantai dengan langkah tak pasti, seiring asa yang telah terkubur. Entah sudah berapa lama ku melintasi tepian pantai ini aku tak menghiraukannya seakan kini hidupku tiada berarti. Ku terus menjelajah, dan terus melangkah, dengan perasaan kosong hingga tersadar hari telah menjelang senja.
Tiba-tiba saja aku tersentak. Setelah sekian lama ku menyusur pantai, terlukis di mataku sebuah tebing bertengger kokoh di depan sana. Ku tatap batuan itu lama hingga ku tersadar tebing itu adalah tempatku terdampar selama ini. Ternyata aku berjalan mengelilingi pulau. Ternyata pulau ini kecil, dan tak berpenghuni.
Senja telah tiba, mendadak ada niatan menderu dalam diriku. Aku ingin pulang !. Aku sudah tak tahan lagi hidup di tempat sial ini. Aku muak !
Ku lihat ada pohon kelapa tumbang di dalam sana. Aku masuk ke rerimbunan pulau. Tumbuhan liar bercokol menjulang ke atas berdiri di setiap jengkal tanah. Ku raih pohon yang telah tumbang itu. Sekuat tenaga aku berusaha menariknya keluar dari rerimbunan yang ada. Ku seret batang pohon kelapa itu hingga mencapai ombak pantai. Lalu dengan segumpal asa yang tersisa aku naik ke punggungnya dan siap untuk berlayar ke tempat ku semestinya tinggal di sana. Ku arungi terjangan ombak yang menghalau langkahku, namun tak lama kemudian sederet ombak besar menghantam perjalananku dan segera mengirimku kembali ke tempat aku terdampar selama ini. Aku tak bisa pulang…
*****
Senja telah temaram, mentari pun telah menghilang di balik lautan. Namun ku masih tetap di sini, dalam kesunyian yang mendalam, dalam keterasingan yang sungguh aku tak sanggup lagi untuk meneruskan hari-hariku.
Terpatung, sendiri, senyap, menderita. Mungkin inilah suratan takdir untukku. Aku sungguh sangat berdosa. Perahu cadik satu-satunya yang orang tuaku miliki kini telah musnah ditelan lautan. Kini ku tersadar bahwa aku memang anak tak berguna, anak yang hanya bisa menyusahkan orang tua. Ayah pasti tidak bisa mencari ikan lagi sebab perahu itu telah tiada. Dan ibu pasti sangat bingung mencari anaknya yang sudah beberapa hari ini tiada jua kembali. Aku telah membuat mereka sengsara. Maafkan aku, aku memang tak berguna.
Langit semakin menghitam. Taburan bintang begitu indah menghiasi angkasa malam. Namun aku masih tetap di sini, di atas tebing terjal memandang lautan terbentang seorang diri.
Di dalam kesendirian ini, ku berharap semua ini hanyalah mimpi. Ku harap ini hanyalah sebuah bunga tidurku di malam hari. Namun aku sadar hal ini memang benar-benar terjadi.
Tiada terasa setitik loh menetes membelah pipi meratapi nasib malang yang tiada juga berakhir. Butiran lohku semakin deras membasahi tebing tempat ku berpasrah diri. Aku menjerit kepada-Mu, Wahai Sang Penguasa Alam. Mengapa Kau jadikan aku seperti ini. Atau memang inikah jalan yang terbaik bagiku untuk melaju meniti hidup sendiri agar mereka tidak merasa sengsara bila ku hidup di bersamanya ?
Di dalam kesunyian ini ku berharap semoga ada kapal yang singgah ke tempat ini. Ku harap di tengah penderitaan ini ada orang yang mau dating kemari dan mengajakku untuk pulang kembali.
Waktu terus melaju. Deru ombak pantai, jerit burung laut, masih terus menghiasi hariku. Yah, aku masih tetap di sini, di atas tebing curam di sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Duduk mematung di pangkuan batu terjal dan tinggi.
Perlahan, kelopak mataku terasa meredup. Aku tak kuat lagi melihat, melihat kenyataan yang menimpaku. Aku tiada kuasa lagi menahan seluruh derita ini. Bayanganku kian kabur. Lalu…, sesaat kemudian aku kembali tiada merasakan suara alam. Aku tiada lagi bisa mendengar jerit burung laut ataupun riak ombak yang menghantam daratan. Kini aku tak tahu lagi apa yang terjadi pada diriku…..

Jombang, april 5th 2000
Very special thank’s to anyone
Who can make me change
To listen the world
I love you all

Tidak ada komentar: