Minggu, 09 Desember 2007

SUPER SIAL

Malam minggu tiba, saat yang ku tunggu-tunggu telah datang. Yah, hari ini aku akan mencoba untuk mengutarakan isi hatiku kepada Rani, adik tingkatku.
Belagak berdandan necis, nyolong parfum teman sekamar, pinjem motor si Adi, dan babak penentuan pun segera di mulai.
Ku pacu sepeda motorku menuju rumah Rani, sang pujaan hati. Belum sampai ke tempat tujuan, di depan ku dengar suara peluit seperti lagi ada operasi lalu lintas. Dan firasatku benar, banyak petugas kepolisian mencegat motor-motor penuh semangat. Sial aku lupa bawa SIM.
“Pasti kena tilang nih”, gerutu hatiku sebal.
Tanpa ba bi bu aku langsung dapat undangan pengadilan. Setelah urusan beres, tanpa pikir panjang ku kebut motorku biar nggak kehabisan waktu sebab sepuluh menit yang lalu waktuku telah terbuang oleh patroli. Tapi, ah sial tiba-tiba ban depan meletus. “Dorr!”. Kenapa acaranya jadi begini. Beruntung di depan ada tukang tambal ban, tapi sialnya lagi ada tiga motor yang sudah berbaris antri di situ. Ketiga-tiganya juga mau nambal ban. “Mau nambal ban juga mas?”, celetuk si tukang tambal sembari mesam-mesem. Aku mengangguk sambil melepas senyum ketus. Trus berapa lama aku harus menunggu giliranku. Dan kapan aku akan sampai ke padepokan Rani. “Dasar Motor bawa sial !”,
Hampir satu jam aku termenung kesal nungguin tukang tambal yang nggak selesai-selesai juga. Acara ngedate-ku sepertinya gagal malam ini. Setengah sembilan malam motorku baru sehat kembali. Jalan ke rumah Rani masih tujuh kilo kilo lagi. Trus di sana mau ngapain dengan sisa waktu yang begitu sempit. “Ah, sebaaal !“.
Ya sudahlah daripada nggak ada hasil sama sekali aku cabut saja menuju rumah Rani. Nggak usah mampir, lihat rumahnya saja sudah cukup untuk melepaskan rasa kesalku malam ini.
Hampir sampai rumahnya, tiba-tiba sebuah BMW hitam berhenti tepat di depan gerbang rumah Rani. Samar-samar aku lihat di kejauhan sosok gadis berambut panjang keluar dari mobil dengan digandeng mesra oleh seorang lelaki. Aku kenal gadis itu. Itu pasti....Rani. Yah, itu Raniku, tapi dengan orang lain.
Buru-buru aku berputar 180 derajat sebelum kesabaranku hilang aku langsung pulang dengan sebongkah rasa emosi yang hampir tak sanggup lagi ku tahan. “Super siaaaal !”, teriakku kencang di tengah jalan. Kacau sudah acaraku malam ini.

Malang, 13 Mei 2004
Untuk mas Thole
Si manusia tabah

Tidak ada komentar: