Kamis, 20 Desember 2007

NUNO MALANG

Kriiing !, jam weker ajaib di atas meja belajar Nuno berteriak keras, menghempaskan si culun dari kasurnya dan terjembab ke lantai. Gubrak !
Ia mengucek matanya yang merah, kepalanya diputar ke kiri dan ke kanan seperti orang habis kena ayan, kemudian berdiri dari lantai, Kepalanya diputar ke kanan dan ke kiri, lalu tenggelam di tempat tidurnya kembali tanpa menghiraukan deringan jam kesayangannya yang selalu berkokok tiap pagi.
Jam kecil itu masih berdering keras, kali lebih keras dari yang tadi. Nuno jadi kesal, ia lemparkan sebuah guling ke arah sumber suara itu dan berhasil menjatuhkannya ke lantai. Sekarang ia bisa ngorok lagi dalam pelukan mimpi indahnya dengan tenang.
Kriiing ! deringan semakin nyaring. Nuno yang baru saja mau bobok lagi-lagi terjembab oleh suara itu. Kepalanya merah padam, matanya juling, yang kanan ke kiri dan yang kiri ke bawah menatap musuhnya, hidungnya mengeluarkan asap laksana banteng matador yang haus darah. Kesabarannya habis sudah.
“Bisa diem nggaaaak !!!”, teriaknya melebihi jam weker.
Saat itu juga jam butut itu diam berdering. Tidak hanya itu, jarum-jarumnya juga diam tak bergerak !
Sejenak Nuno menoleh ke arah jendela, mentari telah merangkak naik. Sinarnya menembus sudut-sudut kota temasuk tempat tidurnya yang memang menyudut. Nuno tersadar, diliriknya jam butut yang telah tewas itu menunjuk angka delapan kurang sepuluh kemudian terjingkat untuk ke sekian kalinya dan pingsan saat itu juga.
*****
Ani jongkok dengan kaku setelah pegal duduk lama-lama di atas meja sudut kafe. Sebentar-sebentar ia melirik arlojinya sudah bergerak ke angka delapan tepat. Setengah jam sudah ia menunggu kedatangan Nuno di situ namun si muka buaya belon juga keliatan. Hari ini Ani akan menyatakan sikapnya setelah seminggu yang lalu Nuno melayangkan kalimat merdu kepadanya.
Rembulan itu telah muncul di mataku, sinarnya mampu menembus belahan hati yang selama ini padam. Aku bingung ke mana kapal ini akan berlabuh, di tengah malam gulita, terhempas badai dan ombak ganas, lalu aku menemukan sebuah pulau, pulau sumatera, itulah tempat kelahiranku. Ani aku cinta kamu…
“Yee, nggak nyambung !”, kata Ani waktu itu.
Dan kini ia masih menanti kedatangan si culun yang sebenarnya ia rada-rada naksir juga. Bukan naksir orangnya, tapi naksir sogokannya yang setiap kali datang selalu bawa rambutan, pisang, nanas, dan nasi pecel. Maklumlah, dulunya Nuno memang seorang pedagang. Tapi sampai detik ini ia belum juga kelihatan pantatnya. Ani jadi kesal.
Sementara itu Nuno yang baru siuman dari pingsannya buru-buru ngambil peralatan mandi temen sekamarnya. Dengan sekuat tenaga ia berlari menuju ke kamar mandi di belakang kosnya, tapi ia terlambat. Tujuh orang temannya sudah berbaris antri sambil membawa karcis undian. Terpaksa ia menjadi orang ke delapan yang ikutan antri. Satu jam kemudian giliran Nuno tiba. Dengan bersungut-sungut ia masuk kamar mandi lalu cuci muka. Selesai sudah acara mandi pagi Nuno hari ini. Pinjem baju temen sebelah, nyuri parfum anak ibu kos, dan berangkatlah si manusia tanpa dosa dengan menenteng sepatu bapak kos !
Sial di tengah perjalanan ia bertemu musuh bebuyutannya, anjing tetangga sebelah. Dilihatnya anjing itu lagi asyik ngebom di dekat pohon asem. Nuno melemparkan sebuah kerikil cukup besar tepat mengenai jidat si doggy. Si doggy tidak terima. Kepalanya yang benjol itu membuatnya naik darah, untungnya Nuno sudah pasang kuda-kuda. Ia mengambil langkah seribu dan si doggy mengejarnya sambil terkencing-kencing.
Di depan gerbang kampus Nuno meminta bantuan kepada pak satpam. Pak satpam pun memicingkan matanya.
“Mana anjingnya ?”, tantang pak satpam.
Naas, si doggy sudah duduk manis di depan gerbang. Nuno melanjutkan acara lari pagi disusul pak satpam di belakangnya. Orang-orang di sekitarnya pada ikutan lari, dikiranya lagi mau nangkap maling jemuran.
Suasana mencekam itu akhirnya bisa diredam oleh tante Katty, janda kembang pemilik anjing yang kebetulan tengah lewat di situ. Nuno bersama pak satpam jadi lega sambil pijit-pijitan di dalam kafe kampus.
“Nggak nyangka anjingnya segede itu !”, protes pak satpam.
“Iya, itu belum induknya !”, sambung Nuno sembari matanya melirik ke kanan dan ke kiri nggak jelas.
Ani ke mana ? gerutunya dalam hati. Dilihatnya jam kafe telah nunjuk pukul sepuluh. Belum selesai rasa penasarannya, Uce, pelayan kafe memberikan secarik kertas bertinta merah kuning ijo kepada Nuno.
“Nih ada pesenan buat kamu !”, ujarnya nyampein mandat.
Ku harap pulau itu tiada keliahatan lagi sebab sang rembulan tak lagi mau bersinar. Ku harap kapal itu tiada pernah berlabuh dan birlah karam di tengah badai. Dasar Buaya !.
Kontan Nuno pingsan untuk kedua kalinya, namun beruntung pak satpam segera mengambil tindakan. Seember air cucian piring telah menyadarkannya kembali.
*****
Akhir-akhir ini Nuno lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada bergurau dengan teman-temannya. Entahlah, sepertinya semangat hidupnya telah hilang. Sinar rembulan itu telah sirna, lenyap dari hari-harinya. Ia tak tahu lagi ke mana kapal ini harus berlabuh semenjak sobekan kertas menyakitkan itu di terimanya dari Uce.
Ani, seorang gadis cantik yang dikenalnya tiga bulan yang lalu melalui raker pengurus harian, gadis yang selalu membuatnya terhanyut dalm lamunan, gadis yang senyumnya bikin pingsan orang, gadis yang selama ini menyita tidurnya, gadis yang diharapkan mampu menghiasi hari-harinya, namun sejuta sayang, harapan itu seakan telah raib. Ani telah pergi…
“Hei, ngelamun terus !“, Oris, teman sekamar Nuno membuyarkan lamunannya.
“Udah deh, Nggak usah dipikirin. Gitu aja kok pasrah !”, sambungnya.
“Lo sih mandinya kelamaan jadi gini deh !”
“Enak aje gue yang disalahin, Lo tuh yang molor tidurnya !”
Oris cengengesan ngeliat wajah Nuno yang keliatan culunnya.
“Gue mo pulang ke Jakarta !”, ujar Oris kemudian.
“Nggak nanya’ !”, jawab Nuno asal.
“Eh, lo jangan frustasi gitu dong, nih kunci motor gue, gue titipin ama lo. Lo mo ngelayap ke mana kek terserah lo. Lo samperin si Ani juga terserah yang penting jangan kena tilang !”, ujarnya sok pengertian.
“No, lo kudu ngerti kegagalan bukan berarti kemunduran, kegagalan adalah bukan kesuksesan, batu bisa berlobang oleh tetes air, pucuk dicinta ulam tiba, setali tiga uang, di mana bumi di pijak di situ langit di junjung, di sini gunung di sana kembar…”
“Hoi, lo ngomong apaan sih ?”.
“Enggak, cuman ngapalin peribahasa aja. Oke gue mo pamit. No, inget kesempatan itu bukan cuma sekali. Assalamu’alaikum !”.
Oris menghilang dari sudut pandangan. Angan Nuno kembali melayang. Oh, Ani, begitu kejamnya engkau !. Sebenarnya ia ingin menjelaskan mengenai kealpaannya tadi pagi, tapi ah…
Ia mengambil sepeda motor Oris dan bergegas pergi menyusuri jalan menenangkan pikiran. Ia tiba di depan kampus bertemu pak satpam yang tadi pagi ikut acara jogging. Diletakkannya si Tiger di samping pos lalu ngobrol bersama pak Sutjipto, sang bodyguard kampus, melepaskan penatnya sambil ngerokok rame-rame.
“No, gimana si… siapa ? Ani ya, sudah kamu jelaskan belum ?”, tanya pak Tjip.
Yah, pak satpam telah mengetahui perihal hubungannya dengan si Ani semenjak di kafe waktu itu.
“Aduh bingung pak !”.
“Ah, kau belum ketemu dia ?”.
Nuno mengangguk pelan.
“Aduh, Nuno kamu orang harus gentle, meski ia kecewa sama kau, dia kan belum tahu kejadian tadi pagi, siapa tahu dia bisa memaafkanmu, jangan malah berpangku tangan begitulah kau !”, pak Tjip berpetuah dengan logat bataknya yang kental.
“Tapi…”
“Ah, sudahlah, kalu begini terus apa yang kau dapatkan. Cepat telfon dia !”.
Seperti tersulut api, semangat Nuno jadi berapi api laksana kereta api tanpa api. Di ambilnya sebuah kotak kecil dari dalam sakunya, tapi pak satpam mencegahnya.
“Pakai telfon umum saja, inget orang tuamu yang banting tulang di rumah !“, cegah pak Tjip sok berwibawa.
Nuno pun mengangguk-angguk saja, emang HP-nya nggak ada pulsa. Ia melangkah ke wartel terdekat. Dengan langkah ragu ia memasuki KBU 3. Ditekannya tombol-tombol untuk menghubungkan komunikasinya dengan rumah kos Ani.
“Ani keluar !“, jawab seseorang di seberang sana.
Nuno meletakkan gagang telfon. Langkahnya lesu keluar KBU.
“Lho, Nuno….”
Nuno memandang orang yang memanggilnya tanpa beredip. Ia mengucek matanya barangkali ada yang salah dengan penglihatannya.
“Ani, kau…di sini ?”
Mereka sama-sama terpatung dan geleng-geleng kepala untuk beberapa saat.
“Aku…eh, tadi…eh, telfon….kamu….eh…”, Nuno tersendat-sendat.
“Aku…eh,…tadi…eh,…juga….kamu…telfon”, Ani terkena virus Nuno.
“Oh…”, ungkap mereka mengambil suara bersamaan sembari saling tersenyum malu. Kompak !.
Mereka kemudian berjalan keluar dari wartel menuju taman depan kampus dan duduk-duduk manis di bangku yang ada.
“Dua jam aku nungguin kamu di kafe, tapi…”
Nuno langsung menghentikan kalimat Ani dan berusaha menjelaskan bencana yang menimpanya tadi pagi. Ani mendengarkan dengan seksama hingga jadi terharu dengan perjuangannya melawan anjing yang diceritakannya.
“Pak satpam yang menolongku juga tak berkutik !”, jelasnya lagi.
Nuno masih juga berpidato dengan lantang kepada buah hatinya hingga sepatu bapak kos juga diceritakan. Ani diam pura-pura mendengarkan hingga hampir ketiduran.
“Aku minta maaf !”, ungkapnya di penghujung cerita.
“An, bolehkah kapal ini berlabuh di pantai hatimu !”, Nuno ragu.
“Aku sebenarnya juga….ama kamu !”.
“Benarkah, An ?”, Nuno tak percaya.
“He eh !”.
Nuno melompat girang dan berlari mengitari taman tujuh kali sambil bernyanyi aku seorang kapiten. Orang-orang di sekelilingnya, termasuk abang becak di pinggir jalan pada geleng-geleng kepala dikira ada orang gila lagi kumat, tapi Nuno tak menghiraukannya. Terakhir ia mendatangi pak satpam di pos jaga dan mengajaknya bersalaman.
“Terima kasih, Pak, petuah bapak sangat manjur !”.
Pak satpam tertawa sambil menepuk dada. Ada nyamuk di dadanya.
Nuno kembali menghampiri Ani di taman.
“Jalan-jalan ke kota yuk !”, ajak Nuno.
“Lho, helmnya mana ?”, tanya Ani.
“Emang harus pakai helm ?”, tanya Nuno balik.
Ani dan Nuno meluncur bahagia menuju keramaian kota, mengabadikan malam penuh ceria dan berharap kebahagiaan ini tidak akan berakhir. Rembulan itu telah bersinar lagi. Ani semakin merapatkan dekapannya menebar kehangatan malam ini.
Sampai mereka di tikungan depan, samar-samar di ujung sana ada semacam mobil patroli mencegat motor-motor yang lalu lalang. Nuno tersentak.
“An, boleh minta sesuatu ?”.
“Apa sayang…”, ujarnya manja.
“Kamu ada uang ?”
Ani tersentak. “Buat apa ?”.
“Sepertinya kita akan kena tilang !”
Ani pingsan saat itu juga.
*****



Malang, middle of year, 2002
Special thank’s to Ibnu
Atas support dan culunnya
Keep smile ‘till you mad

Tidak ada komentar: