Kamis, 20 Desember 2007

NUNO MALANG

Kriiing !, jam weker ajaib di atas meja belajar Nuno berteriak keras, menghempaskan si culun dari kasurnya dan terjembab ke lantai. Gubrak !
Ia mengucek matanya yang merah, kepalanya diputar ke kiri dan ke kanan seperti orang habis kena ayan, kemudian berdiri dari lantai, Kepalanya diputar ke kanan dan ke kiri, lalu tenggelam di tempat tidurnya kembali tanpa menghiraukan deringan jam kesayangannya yang selalu berkokok tiap pagi.
Jam kecil itu masih berdering keras, kali lebih keras dari yang tadi. Nuno jadi kesal, ia lemparkan sebuah guling ke arah sumber suara itu dan berhasil menjatuhkannya ke lantai. Sekarang ia bisa ngorok lagi dalam pelukan mimpi indahnya dengan tenang.
Kriiing ! deringan semakin nyaring. Nuno yang baru saja mau bobok lagi-lagi terjembab oleh suara itu. Kepalanya merah padam, matanya juling, yang kanan ke kiri dan yang kiri ke bawah menatap musuhnya, hidungnya mengeluarkan asap laksana banteng matador yang haus darah. Kesabarannya habis sudah.
“Bisa diem nggaaaak !!!”, teriaknya melebihi jam weker.
Saat itu juga jam butut itu diam berdering. Tidak hanya itu, jarum-jarumnya juga diam tak bergerak !
Sejenak Nuno menoleh ke arah jendela, mentari telah merangkak naik. Sinarnya menembus sudut-sudut kota temasuk tempat tidurnya yang memang menyudut. Nuno tersadar, diliriknya jam butut yang telah tewas itu menunjuk angka delapan kurang sepuluh kemudian terjingkat untuk ke sekian kalinya dan pingsan saat itu juga.
*****
Ani jongkok dengan kaku setelah pegal duduk lama-lama di atas meja sudut kafe. Sebentar-sebentar ia melirik arlojinya sudah bergerak ke angka delapan tepat. Setengah jam sudah ia menunggu kedatangan Nuno di situ namun si muka buaya belon juga keliatan. Hari ini Ani akan menyatakan sikapnya setelah seminggu yang lalu Nuno melayangkan kalimat merdu kepadanya.
Rembulan itu telah muncul di mataku, sinarnya mampu menembus belahan hati yang selama ini padam. Aku bingung ke mana kapal ini akan berlabuh, di tengah malam gulita, terhempas badai dan ombak ganas, lalu aku menemukan sebuah pulau, pulau sumatera, itulah tempat kelahiranku. Ani aku cinta kamu…
“Yee, nggak nyambung !”, kata Ani waktu itu.
Dan kini ia masih menanti kedatangan si culun yang sebenarnya ia rada-rada naksir juga. Bukan naksir orangnya, tapi naksir sogokannya yang setiap kali datang selalu bawa rambutan, pisang, nanas, dan nasi pecel. Maklumlah, dulunya Nuno memang seorang pedagang. Tapi sampai detik ini ia belum juga kelihatan pantatnya. Ani jadi kesal.
Sementara itu Nuno yang baru siuman dari pingsannya buru-buru ngambil peralatan mandi temen sekamarnya. Dengan sekuat tenaga ia berlari menuju ke kamar mandi di belakang kosnya, tapi ia terlambat. Tujuh orang temannya sudah berbaris antri sambil membawa karcis undian. Terpaksa ia menjadi orang ke delapan yang ikutan antri. Satu jam kemudian giliran Nuno tiba. Dengan bersungut-sungut ia masuk kamar mandi lalu cuci muka. Selesai sudah acara mandi pagi Nuno hari ini. Pinjem baju temen sebelah, nyuri parfum anak ibu kos, dan berangkatlah si manusia tanpa dosa dengan menenteng sepatu bapak kos !
Sial di tengah perjalanan ia bertemu musuh bebuyutannya, anjing tetangga sebelah. Dilihatnya anjing itu lagi asyik ngebom di dekat pohon asem. Nuno melemparkan sebuah kerikil cukup besar tepat mengenai jidat si doggy. Si doggy tidak terima. Kepalanya yang benjol itu membuatnya naik darah, untungnya Nuno sudah pasang kuda-kuda. Ia mengambil langkah seribu dan si doggy mengejarnya sambil terkencing-kencing.
Di depan gerbang kampus Nuno meminta bantuan kepada pak satpam. Pak satpam pun memicingkan matanya.
“Mana anjingnya ?”, tantang pak satpam.
Naas, si doggy sudah duduk manis di depan gerbang. Nuno melanjutkan acara lari pagi disusul pak satpam di belakangnya. Orang-orang di sekitarnya pada ikutan lari, dikiranya lagi mau nangkap maling jemuran.
Suasana mencekam itu akhirnya bisa diredam oleh tante Katty, janda kembang pemilik anjing yang kebetulan tengah lewat di situ. Nuno bersama pak satpam jadi lega sambil pijit-pijitan di dalam kafe kampus.
“Nggak nyangka anjingnya segede itu !”, protes pak satpam.
“Iya, itu belum induknya !”, sambung Nuno sembari matanya melirik ke kanan dan ke kiri nggak jelas.
Ani ke mana ? gerutunya dalam hati. Dilihatnya jam kafe telah nunjuk pukul sepuluh. Belum selesai rasa penasarannya, Uce, pelayan kafe memberikan secarik kertas bertinta merah kuning ijo kepada Nuno.
“Nih ada pesenan buat kamu !”, ujarnya nyampein mandat.
Ku harap pulau itu tiada keliahatan lagi sebab sang rembulan tak lagi mau bersinar. Ku harap kapal itu tiada pernah berlabuh dan birlah karam di tengah badai. Dasar Buaya !.
Kontan Nuno pingsan untuk kedua kalinya, namun beruntung pak satpam segera mengambil tindakan. Seember air cucian piring telah menyadarkannya kembali.
*****
Akhir-akhir ini Nuno lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada bergurau dengan teman-temannya. Entahlah, sepertinya semangat hidupnya telah hilang. Sinar rembulan itu telah sirna, lenyap dari hari-harinya. Ia tak tahu lagi ke mana kapal ini harus berlabuh semenjak sobekan kertas menyakitkan itu di terimanya dari Uce.
Ani, seorang gadis cantik yang dikenalnya tiga bulan yang lalu melalui raker pengurus harian, gadis yang selalu membuatnya terhanyut dalm lamunan, gadis yang senyumnya bikin pingsan orang, gadis yang selama ini menyita tidurnya, gadis yang diharapkan mampu menghiasi hari-harinya, namun sejuta sayang, harapan itu seakan telah raib. Ani telah pergi…
“Hei, ngelamun terus !“, Oris, teman sekamar Nuno membuyarkan lamunannya.
“Udah deh, Nggak usah dipikirin. Gitu aja kok pasrah !”, sambungnya.
“Lo sih mandinya kelamaan jadi gini deh !”
“Enak aje gue yang disalahin, Lo tuh yang molor tidurnya !”
Oris cengengesan ngeliat wajah Nuno yang keliatan culunnya.
“Gue mo pulang ke Jakarta !”, ujar Oris kemudian.
“Nggak nanya’ !”, jawab Nuno asal.
“Eh, lo jangan frustasi gitu dong, nih kunci motor gue, gue titipin ama lo. Lo mo ngelayap ke mana kek terserah lo. Lo samperin si Ani juga terserah yang penting jangan kena tilang !”, ujarnya sok pengertian.
“No, lo kudu ngerti kegagalan bukan berarti kemunduran, kegagalan adalah bukan kesuksesan, batu bisa berlobang oleh tetes air, pucuk dicinta ulam tiba, setali tiga uang, di mana bumi di pijak di situ langit di junjung, di sini gunung di sana kembar…”
“Hoi, lo ngomong apaan sih ?”.
“Enggak, cuman ngapalin peribahasa aja. Oke gue mo pamit. No, inget kesempatan itu bukan cuma sekali. Assalamu’alaikum !”.
Oris menghilang dari sudut pandangan. Angan Nuno kembali melayang. Oh, Ani, begitu kejamnya engkau !. Sebenarnya ia ingin menjelaskan mengenai kealpaannya tadi pagi, tapi ah…
Ia mengambil sepeda motor Oris dan bergegas pergi menyusuri jalan menenangkan pikiran. Ia tiba di depan kampus bertemu pak satpam yang tadi pagi ikut acara jogging. Diletakkannya si Tiger di samping pos lalu ngobrol bersama pak Sutjipto, sang bodyguard kampus, melepaskan penatnya sambil ngerokok rame-rame.
“No, gimana si… siapa ? Ani ya, sudah kamu jelaskan belum ?”, tanya pak Tjip.
Yah, pak satpam telah mengetahui perihal hubungannya dengan si Ani semenjak di kafe waktu itu.
“Aduh bingung pak !”.
“Ah, kau belum ketemu dia ?”.
Nuno mengangguk pelan.
“Aduh, Nuno kamu orang harus gentle, meski ia kecewa sama kau, dia kan belum tahu kejadian tadi pagi, siapa tahu dia bisa memaafkanmu, jangan malah berpangku tangan begitulah kau !”, pak Tjip berpetuah dengan logat bataknya yang kental.
“Tapi…”
“Ah, sudahlah, kalu begini terus apa yang kau dapatkan. Cepat telfon dia !”.
Seperti tersulut api, semangat Nuno jadi berapi api laksana kereta api tanpa api. Di ambilnya sebuah kotak kecil dari dalam sakunya, tapi pak satpam mencegahnya.
“Pakai telfon umum saja, inget orang tuamu yang banting tulang di rumah !“, cegah pak Tjip sok berwibawa.
Nuno pun mengangguk-angguk saja, emang HP-nya nggak ada pulsa. Ia melangkah ke wartel terdekat. Dengan langkah ragu ia memasuki KBU 3. Ditekannya tombol-tombol untuk menghubungkan komunikasinya dengan rumah kos Ani.
“Ani keluar !“, jawab seseorang di seberang sana.
Nuno meletakkan gagang telfon. Langkahnya lesu keluar KBU.
“Lho, Nuno….”
Nuno memandang orang yang memanggilnya tanpa beredip. Ia mengucek matanya barangkali ada yang salah dengan penglihatannya.
“Ani, kau…di sini ?”
Mereka sama-sama terpatung dan geleng-geleng kepala untuk beberapa saat.
“Aku…eh, tadi…eh, telfon….kamu….eh…”, Nuno tersendat-sendat.
“Aku…eh,…tadi…eh,…juga….kamu…telfon”, Ani terkena virus Nuno.
“Oh…”, ungkap mereka mengambil suara bersamaan sembari saling tersenyum malu. Kompak !.
Mereka kemudian berjalan keluar dari wartel menuju taman depan kampus dan duduk-duduk manis di bangku yang ada.
“Dua jam aku nungguin kamu di kafe, tapi…”
Nuno langsung menghentikan kalimat Ani dan berusaha menjelaskan bencana yang menimpanya tadi pagi. Ani mendengarkan dengan seksama hingga jadi terharu dengan perjuangannya melawan anjing yang diceritakannya.
“Pak satpam yang menolongku juga tak berkutik !”, jelasnya lagi.
Nuno masih juga berpidato dengan lantang kepada buah hatinya hingga sepatu bapak kos juga diceritakan. Ani diam pura-pura mendengarkan hingga hampir ketiduran.
“Aku minta maaf !”, ungkapnya di penghujung cerita.
“An, bolehkah kapal ini berlabuh di pantai hatimu !”, Nuno ragu.
“Aku sebenarnya juga….ama kamu !”.
“Benarkah, An ?”, Nuno tak percaya.
“He eh !”.
Nuno melompat girang dan berlari mengitari taman tujuh kali sambil bernyanyi aku seorang kapiten. Orang-orang di sekelilingnya, termasuk abang becak di pinggir jalan pada geleng-geleng kepala dikira ada orang gila lagi kumat, tapi Nuno tak menghiraukannya. Terakhir ia mendatangi pak satpam di pos jaga dan mengajaknya bersalaman.
“Terima kasih, Pak, petuah bapak sangat manjur !”.
Pak satpam tertawa sambil menepuk dada. Ada nyamuk di dadanya.
Nuno kembali menghampiri Ani di taman.
“Jalan-jalan ke kota yuk !”, ajak Nuno.
“Lho, helmnya mana ?”, tanya Ani.
“Emang harus pakai helm ?”, tanya Nuno balik.
Ani dan Nuno meluncur bahagia menuju keramaian kota, mengabadikan malam penuh ceria dan berharap kebahagiaan ini tidak akan berakhir. Rembulan itu telah bersinar lagi. Ani semakin merapatkan dekapannya menebar kehangatan malam ini.
Sampai mereka di tikungan depan, samar-samar di ujung sana ada semacam mobil patroli mencegat motor-motor yang lalu lalang. Nuno tersentak.
“An, boleh minta sesuatu ?”.
“Apa sayang…”, ujarnya manja.
“Kamu ada uang ?”
Ani tersentak. “Buat apa ?”.
“Sepertinya kita akan kena tilang !”
Ani pingsan saat itu juga.
*****



Malang, middle of year, 2002
Special thank’s to Ibnu
Atas support dan culunnya
Keep smile ‘till you mad

Minggu, 09 Desember 2007

TERDAMPAR

Perahu bercadik itu tergeletak di hamparan pasir putih nan luas, berbaris bersama perahu-perahu yang lain, perahu tua yang selalu digunakan ayah untuk mengais rizki di tengah lautan sana. Aku menatap perahu itu dengan segumpal rasa berdosa.
Malam ini aku sendiri, duduk di kursi reyot di belakang rumah, memandang laut lepas dengan segenap perasaan gundah. Pikiranku kacau semenjak kata-kata pahit itu menghujam menghantui diriku.
“Apa yang bisa kamu kerjakan, tidur melulu saban hari !”.
bayangan suara sumbang itu terus mengalun di telingaku, bahkan aku masih mengingat dengan jelas kata-kata menyakitkan itu sampai kini.
“Dasar anak tak berguna !”.
Tanganku terkepal dan kepalaku seakan terasa mendidih. Aku melangkah meninggalkan kursi tua, menapakkan kaki menjelajah gundukan-gundukan pasir yang terbentang dan berhenti di samping perahu yang dari sore telah tergeletak di situ. Ku raih dayungya erat selaksa memegang sebuah tombak. Aku memang tak pernah membantu engkau. Hanya makan dan tidur yang aku lakukan tiap hari, tapi itu bukan berarti aku tak berguna seperti yang ayah katakan !. Aku bisa berbuat sesuatu untukmu. Aku bisa mencari ikan, Yah …! Malam ini juga akan ku buktikan kepadamu, ayah !, jerit hatiku menderu.
Aku mendorong perahu itu kuat hingga mencapai ombak pantai. Perlahan ku kayuh dengan perahu dengan penuh perasaan tertantang. Aku bisa melakukannya untukmu !. Perahu terus ku kayuh menerjang ombak yang cukup ganas di depan sana. Sorot mataku tajam menembus keheningan malam. Bayu berhembus kencang namun emosi jiwaku tetap berkobar, bahkan tanganku kian terkepal sembari sesekali ku tengok ke belakang yang rupanya aku sudah cukup jauh berlayar.
Hembusan bayu mengalun semakin kuat, tapi aku tak peduli. Aku masih terus mengayun dan terus berjalan. Aku tak menyadari hembusan ini adalah awal petaka. Dan benar, tiba-tiba saja iringan ombak besar muncul di depan mataku kontan mengombang-ambingkan perahu yang ku layari. Aku tak habis pikir, kenapa ada badai di laut yang tenang ini, tapi aku tak peduli, ku coba untuk bertahan, namun sekali lagi iringan ombak yang lebih besar menghantam perahu, melemparkan aku ke laut yang tengah murka. Lalu…, saat ini aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku, saat ini aku tak tahu apa yang sedang menimpaku, aku tak bisa merasakan apa-apa lagi, aku tak merasakan hembusan bayuku. Yang mampu kurasakan sekarang hanyalah kegelapan menyapaku….
*****
Jerit burung-burung laut nyaring terdengar di telinga. Aku merasakan ada sesuatu yang lembut tengah membelai tubuhku. Aku tersentak. Ku coba untuk membuka penglihatanku. Sayup-sayup ku lihat hamparan pasir putih terbentang di sini. Aku tertegun dengan segudang tanda tanya, apa yang telah terjadi pada diriku ?.
Aku mencoba bangkit dari telungkupku yang entah dari kapan aku di sini. Ku tatap nanar gemuruh ombak pantai begitu liar menggapai tebing dan batuan terjal tak jauh dari tempat ku berdiri saat ini. Retinaku bergerak ke kanan dan ke kiri tempat di mana aku berada saat sekarang. Pohon kelapa berbaris rapi di pinggiran pantai, tebing-tebing yang curam dan tinggi, burung-burung berkejaran ke sana kemari. Oh, Tuhan, di mana aku sekarang ?.
Tak kulihat manusia satu pun di sini. Perkampungan penduduk juga tak ku dapati. Hanya kehidupan liar yang dapat aku temui saat ini. Sangat kontras dengan kehidupan yang biasa aku temui. Bukan, ini bukan pulauku. Ini bukan tempatku. Oh tidak, aku telah terdampar.
Terik sang mentari kian memancar terang. Tatapanku kini tertuju pada bentangan air laut yang luas membiru. Tak terlintas di indera penglihatanku pulau di mana aku semestinya berada. Tiada terlintas dalam pandanganku tanah di mana aku biasa bermain-main dengan temanku setiap sore sembari memanjat pohon kelapa yang tinggi. Hanya gambar lautan membentang dengan riak ombak besar yang mampu terekam di mataku, tiada gambar yang lain. Tidak juga kapal ataupun perahu kecil yang lalu lalang di hamparan air membiru. Tiada gambar yang lain. aku benar-benar telah terdampar, terdampar di sebuah pulau yang teramat asing bagiku, jauh dari tanah kelahiranku, jauh dari orang tua, orang-orang yang ku kasihi, jauh dari kehidupan manusia. Oh Tuhan, takdir apa lagi yang Engkau berikan !.
*****
buah kelapa ku teguk dengan tiada gairah. Dua hari sudah aku di sini, di sebuah daratan yang sepertinya tidak tercantum dalam peta. Sebuah daratan rimbun, sepi, asing, dan tiada makanan. Hanya buah-buahan yang bisa ku dapatkan untuk mengganjal rasa lapar yang terus melilit.
Ku tapakkan kaki menjelajahi gundukan pasir, menyusuri tepian pantai dengan langkah tak pasti, seiring asa yang telah terkubur. Entah sudah berapa lama ku melintasi tepian pantai ini aku tak menghiraukannya seakan kini hidupku tiada berarti. Ku terus menjelajah, dan terus melangkah, dengan perasaan kosong hingga tersadar hari telah menjelang senja.
Tiba-tiba saja aku tersentak. Setelah sekian lama ku menyusur pantai, terlukis di mataku sebuah tebing bertengger kokoh di depan sana. Ku tatap batuan itu lama hingga ku tersadar tebing itu adalah tempatku terdampar selama ini. Ternyata aku berjalan mengelilingi pulau. Ternyata pulau ini kecil, dan tak berpenghuni.
Senja telah tiba, mendadak ada niatan menderu dalam diriku. Aku ingin pulang !. Aku sudah tak tahan lagi hidup di tempat sial ini. Aku muak !
Ku lihat ada pohon kelapa tumbang di dalam sana. Aku masuk ke rerimbunan pulau. Tumbuhan liar bercokol menjulang ke atas berdiri di setiap jengkal tanah. Ku raih pohon yang telah tumbang itu. Sekuat tenaga aku berusaha menariknya keluar dari rerimbunan yang ada. Ku seret batang pohon kelapa itu hingga mencapai ombak pantai. Lalu dengan segumpal asa yang tersisa aku naik ke punggungnya dan siap untuk berlayar ke tempat ku semestinya tinggal di sana. Ku arungi terjangan ombak yang menghalau langkahku, namun tak lama kemudian sederet ombak besar menghantam perjalananku dan segera mengirimku kembali ke tempat aku terdampar selama ini. Aku tak bisa pulang…
*****
Senja telah temaram, mentari pun telah menghilang di balik lautan. Namun ku masih tetap di sini, dalam kesunyian yang mendalam, dalam keterasingan yang sungguh aku tak sanggup lagi untuk meneruskan hari-hariku.
Terpatung, sendiri, senyap, menderita. Mungkin inilah suratan takdir untukku. Aku sungguh sangat berdosa. Perahu cadik satu-satunya yang orang tuaku miliki kini telah musnah ditelan lautan. Kini ku tersadar bahwa aku memang anak tak berguna, anak yang hanya bisa menyusahkan orang tua. Ayah pasti tidak bisa mencari ikan lagi sebab perahu itu telah tiada. Dan ibu pasti sangat bingung mencari anaknya yang sudah beberapa hari ini tiada jua kembali. Aku telah membuat mereka sengsara. Maafkan aku, aku memang tak berguna.
Langit semakin menghitam. Taburan bintang begitu indah menghiasi angkasa malam. Namun aku masih tetap di sini, di atas tebing terjal memandang lautan terbentang seorang diri.
Di dalam kesendirian ini, ku berharap semua ini hanyalah mimpi. Ku harap ini hanyalah sebuah bunga tidurku di malam hari. Namun aku sadar hal ini memang benar-benar terjadi.
Tiada terasa setitik loh menetes membelah pipi meratapi nasib malang yang tiada juga berakhir. Butiran lohku semakin deras membasahi tebing tempat ku berpasrah diri. Aku menjerit kepada-Mu, Wahai Sang Penguasa Alam. Mengapa Kau jadikan aku seperti ini. Atau memang inikah jalan yang terbaik bagiku untuk melaju meniti hidup sendiri agar mereka tidak merasa sengsara bila ku hidup di bersamanya ?
Di dalam kesunyian ini ku berharap semoga ada kapal yang singgah ke tempat ini. Ku harap di tengah penderitaan ini ada orang yang mau dating kemari dan mengajakku untuk pulang kembali.
Waktu terus melaju. Deru ombak pantai, jerit burung laut, masih terus menghiasi hariku. Yah, aku masih tetap di sini, di atas tebing curam di sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Duduk mematung di pangkuan batu terjal dan tinggi.
Perlahan, kelopak mataku terasa meredup. Aku tak kuat lagi melihat, melihat kenyataan yang menimpaku. Aku tiada kuasa lagi menahan seluruh derita ini. Bayanganku kian kabur. Lalu…, sesaat kemudian aku kembali tiada merasakan suara alam. Aku tiada lagi bisa mendengar jerit burung laut ataupun riak ombak yang menghantam daratan. Kini aku tak tahu lagi apa yang terjadi pada diriku…..

Jombang, april 5th 2000
Very special thank’s to anyone
Who can make me change
To listen the world
I love you all

SUPER SIAL

Malam minggu tiba, saat yang ku tunggu-tunggu telah datang. Yah, hari ini aku akan mencoba untuk mengutarakan isi hatiku kepada Rani, adik tingkatku.
Belagak berdandan necis, nyolong parfum teman sekamar, pinjem motor si Adi, dan babak penentuan pun segera di mulai.
Ku pacu sepeda motorku menuju rumah Rani, sang pujaan hati. Belum sampai ke tempat tujuan, di depan ku dengar suara peluit seperti lagi ada operasi lalu lintas. Dan firasatku benar, banyak petugas kepolisian mencegat motor-motor penuh semangat. Sial aku lupa bawa SIM.
“Pasti kena tilang nih”, gerutu hatiku sebal.
Tanpa ba bi bu aku langsung dapat undangan pengadilan. Setelah urusan beres, tanpa pikir panjang ku kebut motorku biar nggak kehabisan waktu sebab sepuluh menit yang lalu waktuku telah terbuang oleh patroli. Tapi, ah sial tiba-tiba ban depan meletus. “Dorr!”. Kenapa acaranya jadi begini. Beruntung di depan ada tukang tambal ban, tapi sialnya lagi ada tiga motor yang sudah berbaris antri di situ. Ketiga-tiganya juga mau nambal ban. “Mau nambal ban juga mas?”, celetuk si tukang tambal sembari mesam-mesem. Aku mengangguk sambil melepas senyum ketus. Trus berapa lama aku harus menunggu giliranku. Dan kapan aku akan sampai ke padepokan Rani. “Dasar Motor bawa sial !”,
Hampir satu jam aku termenung kesal nungguin tukang tambal yang nggak selesai-selesai juga. Acara ngedate-ku sepertinya gagal malam ini. Setengah sembilan malam motorku baru sehat kembali. Jalan ke rumah Rani masih tujuh kilo kilo lagi. Trus di sana mau ngapain dengan sisa waktu yang begitu sempit. “Ah, sebaaal !“.
Ya sudahlah daripada nggak ada hasil sama sekali aku cabut saja menuju rumah Rani. Nggak usah mampir, lihat rumahnya saja sudah cukup untuk melepaskan rasa kesalku malam ini.
Hampir sampai rumahnya, tiba-tiba sebuah BMW hitam berhenti tepat di depan gerbang rumah Rani. Samar-samar aku lihat di kejauhan sosok gadis berambut panjang keluar dari mobil dengan digandeng mesra oleh seorang lelaki. Aku kenal gadis itu. Itu pasti....Rani. Yah, itu Raniku, tapi dengan orang lain.
Buru-buru aku berputar 180 derajat sebelum kesabaranku hilang aku langsung pulang dengan sebongkah rasa emosi yang hampir tak sanggup lagi ku tahan. “Super siaaaal !”, teriakku kencang di tengah jalan. Kacau sudah acaraku malam ini.

Malang, 13 Mei 2004
Untuk mas Thole
Si manusia tabah